|
Kebijakan Blokir Situs Porno
Posted on Friday, 04 Apr 2008, by : Toba .
Kawan-kawan, tentu
sudah dengar kabar santer tentang kebijakan menteri Kominfo yang baru (Bpk. M.
Nuh)? Bukan tentang video Fitna, tapi pemblokiran situs porno di Indonesia.
Yang gue denger katanya dimulai sejak awal April ini, gue sangat tertarik untuk
melihat implementasi kebijakan ini, maka setelah lewat awal April ini, gue pun
coba membuka beberapa situs terlarang itu, diantaranya : worldse*.com,
youpo**.com, 1*tahu*.us.
Hasilnya? Masih bisa
dibuka, tanpa perlu pake aplikasi penembus blokir seperti yang ramai
dibicarakan orang. Gue gak pengen beranalisa alias sok tau kenapa itu
'mamang-mamang' dan 'tante-tante' masih pada bisa diakses. Yang jelas, GAK
GAMPANG NGEBENDUNG ARUS INFORMASI jaman sekarang ini, terutama dari internet.
Gue gak pro ataupun kontra terhadap kebijakan ini, yah coba memposisikan diri
sebagai penonton aja deh, buat gue gak ada ruginya itu mo di blokir apa enggak.
Tanggapan Sebagian
Orang
Gue mengikuti
beberapa milis dan juga kadang nggak sengaja liat berita di tivi, banyak orang
yang berpendapat bahwa : "usaha pemblokiran situs po*no ini adalah usaha
yang sia-sia, karena sudah ada cara ataupun aplikasi untuk membobol pemblokiran
ini, jadi percuma". Well gue berposisi netral disini jadi gatel untuk ikut
bicara. Menurut gue itu adalah tanggapan bodoh. Karena memang tidak ada sistem
buatan manusia yang sempurna dan super-anti-bobol. Inti ang gue tangkep dari
sistem keamanan (antivirus, desain arsitektur bangunan, satpam, polisi, tentara
de el el) adalah untuk mempersulit tindak laku kriminal atau perusakan. Kalau
pola pikirnya seperti omongan orang-orang yang saya kutip diatas, ya ngapain
juga pasang satpam, lah satpam bisa ditembak, dipukul, dilumpuhkan, lantas
malingnya bisa masuk. Arsitektur gedung bisa diperkuat, diperkokoh, tapi tetap
ada bom yang mampu menghancurkannya. Antivirus mengamankan komputer dari virus,
tapi tetap bermunculan virus baru yang kadang tak tertangani. Jadi kalau pola
pikirnya kayak gitu (kutipan pendapat umum tadi), ya kita gak bakal ngelakuin
apa-apa.
Yah intinya, LAH KOK
MASIH BISA DIAKSES???
Ketika Menonton Rambo IV
Posted on Sunday, 10 Feb 2008, by : Toba .
Barusan nonton Rambo bedua bini gue di bioskop. Begitu film itu dimulai, rada kaget juga dengan adegan-adegan pembantaiannya -genosida tentara pemerintah terhadap etnis Karen-. Yang kepikiran di kepala gue: "Mmm, eksplisit juga ya aktion nya..." Ya mungkin buat para penggemar genre sadism, itu semua belum seberapa, tapi lumayan nyentak buat kaum dramais dan komedis adamSandleris seperti saya. Adegan pembantaian dengan semena-mena dan sadis yang ditampilkan memang tidak sampai membuat perut saya mual, seperti biasanya kalau saya liat video ato foto korban pembunuhan yang suka berkeliaran di internet. Tapi cukup membuat miris ngeliatnya.
Itu bagian pertama, ketika urutan dramatik sebuah film pada umumnya baru sampai pada penjabaran tentang kekuatan, kejahatan, kemenangan pihak antagonis. Nah, pada 'babak' berikutnya, tatkala pihak 'jagoan' mulai beraksi, dengan kata lain, Rambo mulai membantai pihak 'musuh', perasaan nyaris-mual yang saya rasakan itu hilang, berganti dengan perasaan senang dan lega. Malah terkadang tertawa gregetan dan berteriak seru seperti homer yang nonton tim bisbol nya menang ("woohooo"), ketika layar menampilkan kepala prajurit musuh hancur ditembak rambo, atau bergumam 'mampus!' tatkala Rambo perlahan-lahan merobek tenggorokan musuhnya dengan tangan kosong. Juga sewaktu Rambo Cs. membantai pasukan musuh dengan senapan mesin kaliber gede (yang biasanya ditongkrongin di mobil tentara dan pelurunya segede batere) seperti membunuh sekawanan nyamuk, saya tidak merasa miris apalagi mual. Padahal cara matinya sama mengenaskan dengan adegan rakyat kecil yang dibantai, bahkan sebagian tampaknya lebih brutal.
Film hampir habis dan saya menyadari 'perubahan rasa' itu. Saya jadi bertanya-tanya sendiri; "Kenapa ya?"
Hanya Untuk Istriku Tersayang
Posted on Saturday, 26 Jan 2008, by : Toba .
Malam itu, kubisikkan dengan lembut ke telinganya sebuah puisi : Sayangku, Seperti ucapku Tahunan yang lalu Aku ingin pergi, Melanglang buana Mengenbarai hati wanita-wanita
Sekarang aku pulang Ke dalam pelukanmu Penuh seluruh Memasuki dirimu
Ransel petualangku Kutinggalkan di halte jalan
Kusadari,
Semakin jauh aku berlari darimu Semakin terasa kebutuhan akanmu
Semakin aku mencari warna-warna Semakin kusadari berkilaunya dirimu
Semakin banyak dermaga kulabuhi Semakin kusadari kaulah rumahku
Pelyaran yang dulu kupilih Adalah perjalanan tanpa akhir Bila dituruti Dan hanya menambah kejelasan Bahwa kaulah yang kucari
Kaulah warna padananku Kaulah pelabuhanku
Kau tak sempurna Begitupun aku Kau tak selalu memenuhi harapanku Begitupun aku
Lantas, mengapa harus kukejar Kesempurnaan yang tak ada Yang justru bersemayam pada Kekurangan-kekurangan kita
Cinta kita bukan lagi Tentang nonton di bioskop, Makan malam di tempat aneh, Atau telepon yag berhamburan kata sayang dan rindu
Cinta kita adalah marah kita, Senyum kita, doa-doa kita. cinta kita bersemayam dalam gerutuan dan juga teguran Cinta kita ada dalam gerak yang saling mempersembahkan
Aku pulang sayangku, Aku pulang.
Subhan Toba Akan Menikah Dengan Shulhu Khoiriyah
Posted on Wednesday, 16 Jan 2008, by : Toba .
relationship
Posted on Wednesday, 26 Dec 2007, by : Toba .
Seriuslah pada setiap hubungan yang kita mulai, dan karena hubungan itu serius, cermatilah segala sesuatunya dengan baik.
Proses Kreasi
Posted on Thursday, 06 Dec 2007, by : Toba .
Malam Selasa kemarin, gue terjebak oleh hujan di daerah Palmerah tepatnya di rumah sohib gue yang item manis (hail to the king of freak!). Sekitar jam setengah satu malam kita memutuskan pergi ke warung kopi untuk melanjutkan obrolan kami dan menikmati gerimis malam.
Ini mungkin pertama kali gue ketemuan secara pribadi sama kawan ajaib gue itu setelah sekian bulan gak ketemu. Banyak topik pembicaraan yang mesti kami rangkai lagi ujung kepalanya hingga minimal bisa nyambung. Kita ngegosip tentang Tuhan, nabi, mimpi, imam agama, banyolan dan bertukar tawa lepas. Memang gak pernah bisa sebentar ketemu orang ini, APALAGI kalau ketemuanya disarangnya dia, dan memang gak pernah bisa mudah bicara sama dia, otaknya ada di awan dan bijinya ada di Mars (hihihihi gak nyambung), banyak putaran-putaran kalimat yang harus kita runutin dengan cermat. Doooh kok jadi ngomongin dia sih, okeh, balik ke alur cerita.
Pas kita keluar, ternyata jalanan banjir, kami terus berjalan ke warung rokok, sepayung berdua, jalan di tengah jalan raya (dan saya berpikir "duuuuh ngineeep niiih"). Singkat kata kita tiba di warkop, langsung pesen mie rebus, kopi item, Ovaltine. Beres makan obrolan pun dimulai... bla bla bla.... dan sampailah pada topik yang pengen gue tulis disini.
Gue ngomong tentang bagaimana seharusnya sebuah proses kreasi menurut penangkapan dan pengalaman gue. Obrolan ini dimulai dari pertanyaan dalam benak gue atas orang itu, mengapa orang yang sepandai, sepintar, beliau, tidak juga membuat 'sesuatu'. Berkarya dalam bidangnya, IT. Gue bilang sama dia; "Dude, lo kan sekarang berstatus sebagai programmer, kuli nya IT, ato whatever lah jabatan lo apa architect nya ato apa, intinya tetep aja lo membuat sesuatu atas permintaan orang lain, buntut-buntutnya kuli. Apa lo gak tertarik untuk buat sesuatu?". Gue lupa kalimat dia apa (panjang kalo ditulis), garis besarnya adalah dia belum dapet sebuah ide yang 'wah', yang memang betul-betul bisa menjual.
Jadi keinget sama temen gue di Bandung, guru gitar, jago maennya, dan wawasan musiknya pun luas. Gue kadang suka nanya sama dia; kenapa gak bikin lagu **? Tiap gue bikin lagu pasti mirip sama karya orang, terutama yang lagi memberi influence buat gue saat itu. Intinya dia menunggu saat dimana dia telah memiliki karakter sendiri yang kuat, baru kemudian membuat karya.
Bagi gue, inti dari proses kreasi (dan proses apapun) adalah; dia harus dimulai, dan dilanjutkan secara kontinu. Gue melihat gambaran lengkap sebuah proses kreasi pada proses hidup manusia itu sendiri, semenjak lahir hingga mati. Setiap orang bekerja keras menggapai sesuatu, setiap orang -sadar atau tidak- sebetulnya melakukan proses kreasi, yaitu proses penciptaan sebuah karakter diri yang unik. Proses penciptaan karakter diri ini yang akan gue analogikan terhadap proses kreasi pada umumnya. Sebelum manusia menjadi dewasa memiliki pribadi yang unik, dia berasal dari seorang bayi. Lihatlah dia ketika bayi, lahir dengan polos, tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa. Lantas dia memulai proses menjadi 'sesuatu' dengan jalan meniru, meniru orang terdekatnya, ayah dan ibu. Dia meniru bagaimana orang tuanya bicara, berjalan, tertawa, meniru secara buta, mimesis. Semakin lama figur untuk ditirunya semakin banyak dan semakin luas, hingga akhirnya dia memiliki cara jalan, bicara dan tawanya sendiri.
Dari paragraf di atas, yang coba gue sorot adalah setelah memulai, proses kreasi berjalan dengan mencari figur, dan kemudian meniru figur tersebut. Ini adalah satu proses pembelajaran kita dari posisi tidak tahu, gelap, mencoba mengais informasi dan pengetahuan dari 'figur' yang sudah tahu dan berpengalaman.
Seperti Tadao Ando, seorang arsitek Jepang yang mendunia tanpa mengikuti kuliah formal arsitektur. Masa mudanya diisi dengan latihan sketsa dan kerja pada ahli bangunan. Latihan sketsa yang dia lakukan adalah men-trace (menjiplak dengan cara menggambar diatas selembar kertas yang diletakkan diatas gambar asli) gambar-gambar arsitek kenamaan dunia. Diceritakan oleh beliau sendiri, bagaimana ia terobsesi dengan gambar seorang arsitek dunia, dan kemudian men-trace gambar tersebut berkali-kali sampai gambar yang di trace tersebut rusak. Disini dia meniru gambar orang dengan harapan mengerti garis-garis yang figur-nya goreskan, dan sedikit-sedikit dia mulai menemukan goresannya sendiri. Saat ini orang dapat langsung mengenali goresan sketsa Tadao Ando begitu melihatnya, dan penghargaan uang atas sebuah sektsa kasar Tadao Ando bernilai sangat mahal, seperti benda seni lukis.
Proses peniruan-peniruan awal disini adalah proses memahami bagaimana seseorang melakukan sesuatu, hingga kita menemui cara kita pribadi. Kita mengenali diri kita melalui cerminan orang lain. Dan keharusan lainnya dalam proses kreasi adalah kontinuitas, tanpa hal ini, semuanya menjadi non-sense. Seperti analogi klasik yang kita semua semua tahu, bahwa sebilah besi dapat menjadi tajam bila terus menerus diasah, batu yang keras dapat berlubang jika terus menerus ditetesi air. Ide yang hebat tidak bisa ditunggu, dia harus dicari dengan laku, perbuatan mencipta yang tak putus. Karakter sebuah karya yang unik tidak bisa dicapai hanya dengan kita menjadi pintar, berwawasan luas, dan mengerti banyak teknik ini-itu, tapi harus dimulai meski dengan karya terburuk sekalipun.
Bahkan rumah yang megah sekalipun tetap harus dimulai dari bata yang paling pertama.
Tapi gue tetap menghargai orang-orang itu secara mendalam, mengingat naga yang tertidur di dalam diri mereka, mengingat bahwa sebetulnya mereka pun sedang berusaha dengan jalannya masing-masing. Tulisan ini hanya menyampaikan pandangan gue tentang proses kreasi, hanya sebuah pandangan dibalik tumpukan pandangan orang-orang lain (termasuk teman-teman al-mukarom gue itu), dan bukan berarti pandangan ini yang paling benar, sama sekali tidak.
|
|
ArchiCAD untuk pelajar
Aplikasi CAD (Computer Aided Design) ini gratis untuk tujuan akademis. Anda cukup mendaftar dan nanti akan diberikan link download ke email Anda. Ada beberapa pilihan download, http ataupun Torrent. Saya anjurkan menggunakan jenis torrent, karena anda dapat melanjutkan download anda kapan saja.
|